Senin, 04 Mei 2015

Sosiolinguistik dan ruang lingkup



Sosiolinguistik dan ruang lingkup
1.      Pengertian Sosiolinguistik
Sosiolinguistik adalah ilmu yang meneliti dua aspek hubungan timbal-balik antara bahasa dengan perilaku organisasi sosial (Fishman dalam Jendra, 1972: 2). Ada pula yang merumuskan sebagai berikut. Sosiolinguistik adalah pendekatan terhadap penelitian bahasa yang memusatkan perhatiannya kepada bahasa yang dipakai dalam masyarakat bahasa (speach community), dengan tujuan menghasilkan teori bahasa yag mantap untuk membenarkan, memerikan, dan menjelaskan data tersebut (Labov dalam Jendra, : 1970: 63). Menurut Kridalaksana (1987: 2) mengatakan bahwa “sosiolinguistik” adalah cabang linguistik yang berusaha untuk menjelaskan ciri-ciri sosial. Selain itu, G, E. Booij, dkk (dalam Pateda, 1988: 3) mengatakan bahwa sosiolinguitik adalah cabang linguistik yang mempelajari faktor-faktor sosial yang berperan dalam pergaulan. Istilah sosiolinguistik terdiri dari dua unsur yakni sosio dan linguistik. Linguistik adalah ilmu yang mempelajari dan membicarakan bahasa, khususnya unsur-unsur bahasa (fonem, morfem, kata, kalimat) dan hubungan antara unsur-unsur itu (struktur), termasuk hakikat dan hubungan pembentukan unsur-unsur itu. Sosio adalah seakar dengan sosial, yakni yang berhubungan dengan masyarakat dan fungsi-fungsi kemasyarakatan, kelompok-kelompok masyarakat dan fungsi-fungsi kemasyarakatan (Nababan, 1984: 2). Dengan memasang kedua unsur tersebut, maka dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah studi atau pembahasan dari bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut, maka kita dapat mengemukakan bahwa sosiolinguistik adalah cabang linguistik yang mempelajari bahasa dan pemakaian bahasa dalam konteks sosial dan budaya dalam masyarakat.
2.      Kajian Sosiolinguistik
Sosiolingistik lazim dibatasi sebagai ilmu yang mempelajari ciri dan fungsi berbagai variasi bahasa serta hubungannya di antara bahasawan dengan ciri dan fungsi itu dalam suatu masyarakat bahasa. Fisman (dalam Supriyanto, 1986: 9) mengatakan bahwa sosiolinguistik tidak memusatkan perhatiannya pada fenomena kebahasaan saja, melainkan juga memusatkan perhatian pada sosial tingkah laku, sikap bahasa, tingkah laku nyata terhadap bahasa, dan pemakai bahasa. Jarak sosial dapat dilihat dari sudut vertikal dan sudut horizontal. Dimensi vertikal akan menunjukkan apakah seorang itu berada di atas atau di bawah (berkedudukan tinggi atau rendah). Dimensi vertikal ini merupakan alat untuk menempatkan seseorang dalam kontinum hormat atau tidak hormat. Dimensi sosial ini misalnya kelompok umur, kelas atau status perkawinan. Dimensi horizontal menunjukkan kontinum akrab atau tidak akrab. Misalnya derajat persahabatan, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, jarak tempat tinggal. Dalam sosiologi disebut istilah gregarosness yang berarti memberi manusia untuk selalu hidup bersama orang lain. Proses sosialisasi antar manusia ini hanya dimungkinkan karena dengan bahasa manusia dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendaknya supaya ia bisa memenuhi hasrat sosialnya: 1. Hasrat bergabung dengan manusia sekelilingnya. Dalam sosiolinguistik manusia sekelilingnya ini disebut “speach community” (masyarakat ujaran). 2. Hasrat bergabung atau menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya. Tinjauan sosiolinguistik lainnya adalah bahwa bahasa memungkinkan penuturannya fleksibel dalam memainkan berbagai hubungan peran sewaktu berkomunikasi. Penutur senantiasa membatasi diri pada norma-norma hubungan peran dengan memilih ragam bahasa tertentu. Inilah yang menjadi obyek sosiolinguistik yakni siapa yang bertutur kata, (variasi) bahasa apa, kepada siapa dan tentang apa. Sebagai kesimpulan dapat disebut masyarakat diikat oleh bahasa. Sebab dengan bahasa seseorang dapat bersosialisasi, Pir Corder (dalam Chaedar Alwasilah, 1992: 9 menjelaskan: Kita bisa berkomunikasi dengan seseorang hanya karena mereka bersama kita memiliki seperangkat cara bertingkah laku yang tersepakati. Bahasa dalam arti, seperangkat aturan yang mutlak diperlukan yang memungkinkan anggotanya berhubungan satu sama lain, bekerja satu sama lain: bahasa daerah adalah suatu lembaga sosial.
3.      Ruang Lingkup Sosiolinguistik
 Penggunaan bahasa terbagi dua yaitu kegiatan yang bersifat aktif dan kegiatan yang bersifat pasif. Kegiatan yang bersifat aktif meliputi berbicara dan menulis sedangkan kegiatan bahasa yang bersifat pasif mendengarkan dan membaca. Dengan demikian, ragam-ragam tingkah laku manusia sehubungan dengan bahasa, bagaimana interaksi antara kedua aspek tingkah laku manusia sehubungan dengan bahasa, bagaimana interaksi antara kedua aspek tingkah laku manusia ini (berbicara dan membaca), inilah yang menjadi urusan sosiolinguistik. Berdasarkan defenisi yang dikemukakan di atas, kita dapat membagi sosiolinguistik itu terdiri atas dua bagian yakni: a. Mikrososiolinguistik yang berhubungan dengan kelompok kecil, misalnya sistem tegur sapa. b. Makrososiolinguistik yang berhubungan dengan masalah perilaku bahasa dan struktur sosial. Dalam makna sosiolinguistik ada yang dapat digolongkan keadaan persoalan pokok, yaitu: a. Tentang profil sosiolinguistik, yakni bagaimana keanekaragaman bahasa mencerminkan keanekaragaman sosial yang biasa bersifat statistik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar