Sosiolinguistik dan ruang lingkup
1.
Pengertian Sosiolinguistik
Sosiolinguistik adalah ilmu yang meneliti dua aspek hubungan
timbal-balik antara bahasa dengan perilaku organisasi sosial (Fishman dalam
Jendra, 1972: 2). Ada pula yang merumuskan sebagai berikut. Sosiolinguistik
adalah pendekatan terhadap penelitian bahasa yang memusatkan perhatiannya
kepada bahasa yang dipakai dalam masyarakat bahasa (speach community), dengan
tujuan menghasilkan teori bahasa yag mantap untuk membenarkan, memerikan, dan menjelaskan
data tersebut (Labov dalam Jendra, : 1970: 63). Menurut Kridalaksana (1987: 2)
mengatakan bahwa “sosiolinguistik” adalah cabang linguistik yang berusaha untuk
menjelaskan ciri-ciri sosial. Selain itu, G, E. Booij, dkk (dalam Pateda, 1988:
3) mengatakan bahwa sosiolinguitik adalah cabang linguistik yang mempelajari
faktor-faktor sosial yang berperan dalam pergaulan. Istilah sosiolinguistik
terdiri dari dua unsur yakni sosio dan linguistik. Linguistik adalah ilmu yang
mempelajari dan membicarakan bahasa, khususnya unsur-unsur bahasa (fonem,
morfem, kata, kalimat) dan hubungan antara unsur-unsur itu (struktur), termasuk
hakikat dan hubungan pembentukan unsur-unsur itu. Sosio adalah seakar dengan
sosial, yakni yang berhubungan dengan masyarakat dan fungsi-fungsi
kemasyarakatan, kelompok-kelompok masyarakat dan fungsi-fungsi kemasyarakatan
(Nababan, 1984: 2). Dengan memasang kedua unsur tersebut, maka dapat dikatakan
bahwa sosiolinguistik adalah studi atau pembahasan dari bahasa sehubungan
dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat. Berdasarkan beberapa
pendapat para ahli tersebut, maka kita dapat mengemukakan bahwa sosiolinguistik
adalah cabang linguistik yang mempelajari bahasa dan pemakaian bahasa dalam
konteks sosial dan budaya dalam masyarakat.
2.
Kajian Sosiolinguistik
Sosiolingistik lazim dibatasi sebagai ilmu yang mempelajari
ciri dan fungsi berbagai variasi bahasa serta hubungannya di antara bahasawan
dengan ciri dan fungsi itu dalam suatu masyarakat bahasa. Fisman (dalam
Supriyanto, 1986: 9) mengatakan bahwa sosiolinguistik tidak memusatkan
perhatiannya pada fenomena kebahasaan saja, melainkan juga memusatkan perhatian
pada sosial tingkah laku, sikap bahasa, tingkah laku nyata terhadap bahasa, dan
pemakai bahasa. Jarak sosial dapat dilihat dari sudut vertikal dan sudut
horizontal. Dimensi vertikal akan menunjukkan apakah seorang itu berada di atas
atau di bawah (berkedudukan tinggi atau rendah). Dimensi vertikal ini merupakan
alat untuk menempatkan seseorang dalam kontinum hormat atau tidak hormat.
Dimensi sosial ini misalnya kelompok umur, kelas atau status perkawinan.
Dimensi horizontal menunjukkan kontinum akrab atau tidak akrab. Misalnya
derajat persahabatan, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, jarak tempat
tinggal. Dalam sosiologi disebut istilah gregarosness yang berarti memberi
manusia untuk selalu hidup bersama orang lain. Proses sosialisasi antar manusia
ini hanya dimungkinkan karena dengan bahasa manusia dapat mengungkapkan
pikiran, perasaan, dan kehendaknya supaya ia bisa memenuhi hasrat sosialnya: 1.
Hasrat bergabung dengan manusia sekelilingnya. Dalam sosiolinguistik manusia
sekelilingnya ini disebut “speach community” (masyarakat ujaran). 2. Hasrat
bergabung atau menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya. Tinjauan sosiolinguistik
lainnya adalah bahwa bahasa memungkinkan penuturannya fleksibel dalam memainkan
berbagai hubungan peran sewaktu berkomunikasi. Penutur senantiasa membatasi
diri pada norma-norma hubungan peran dengan memilih ragam bahasa tertentu.
Inilah yang menjadi obyek sosiolinguistik yakni siapa yang bertutur kata,
(variasi) bahasa apa, kepada siapa dan tentang apa. Sebagai kesimpulan dapat
disebut masyarakat diikat oleh bahasa. Sebab dengan bahasa seseorang dapat
bersosialisasi, Pir Corder (dalam Chaedar Alwasilah, 1992: 9 menjelaskan: Kita
bisa berkomunikasi dengan seseorang hanya karena mereka bersama kita memiliki
seperangkat cara bertingkah laku yang tersepakati. Bahasa dalam arti,
seperangkat aturan yang mutlak diperlukan yang memungkinkan anggotanya berhubungan
satu sama lain, bekerja satu sama lain: bahasa daerah adalah suatu lembaga
sosial.
3.
Ruang Lingkup Sosiolinguistik
Penggunaan bahasa terbagi dua yaitu kegiatan
yang bersifat aktif dan kegiatan yang bersifat pasif. Kegiatan yang bersifat
aktif meliputi berbicara dan menulis sedangkan kegiatan bahasa yang bersifat
pasif mendengarkan dan membaca. Dengan demikian, ragam-ragam tingkah laku
manusia sehubungan dengan bahasa, bagaimana interaksi antara kedua aspek
tingkah laku manusia sehubungan dengan bahasa, bagaimana interaksi antara kedua
aspek tingkah laku manusia ini (berbicara dan membaca), inilah yang menjadi
urusan sosiolinguistik. Berdasarkan defenisi yang dikemukakan di atas, kita
dapat membagi sosiolinguistik itu terdiri atas dua bagian yakni: a. Mikrososiolinguistik
yang berhubungan dengan kelompok kecil, misalnya sistem tegur sapa. b.
Makrososiolinguistik yang berhubungan dengan masalah perilaku bahasa dan
struktur sosial. Dalam makna sosiolinguistik ada yang dapat digolongkan keadaan
persoalan pokok, yaitu: a. Tentang profil sosiolinguistik, yakni bagaimana
keanekaragaman bahasa mencerminkan keanekaragaman sosial yang biasa bersifat
statistik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar